Aston Villa Mencari Stabilitas dalam Hidupnya Saat ini

Aston Villa Mencari Stabilitas dalam Hidupnya Saat ini

Aston Villa Mencari Stabilitas dalam Hidupnya Saat ini

Taruhan Bola, Jakarta – Fans Aston Villa pasti tidak dapat memikirkan bila diakhir musim kelak tim yang paling disayangi mereka mesti turun kasta, karenanya tidak pernah berlangsung sepanjang nyaris tiga dekade.

Kecemasan itu sangatlah lumrah dihadapi pengagum Villa lantaran dalam empat musim paling akhir mereka makin punya kebiasaan dengan zona degradasi. Bahkan juga di musim ini peluang itu yaitu yang terbesar di banding tiga musim terlebih dulu, saat mereka senantiasa dapat selamat.

Menengok di klassemen sekarang ini, Gabriel Agbonlahor dkk. selalu saja mendekam di dasarnya. Sejauh musim mereka baru 2 x menang — plus 14 kali kalah. Cuma 12 poin dapat dicapai dari 22 kompetisi. Perubahan manajer dari Tim Sherwood ke Remi Garde tidak banyak menolong : Villa masih tetap terseok-seok.

Dalam belantika sepakbola Inggris, Villa termasuk juga satu diantara club tertua yang turut melahirkan Football Association (FA). Reputasi mereka juga sebenarnya hebat. Tim asal Birmingham ini pernah tujuh kali memenangkan liga, bahkan juga jadi yang paling baik di Eropa di th. 1982. Berbarengan Nottingham Forest, Liverpool, Manchester United, serta Chelsea, mereka yaitu lima kesebelasan Inggris yang pernah memenangi pertandingan yang saat ini bernama Liga Champions itu.

Namun itu narasi yang telah sangatlah lama. Paling akhir kali Villa mengangkat suatu trofi yaitu di th. 1996, yaitu Piala Liga Inggris. Saat itu scuad mereka yaitu satu diantara yang paling baik, berisikan beberapa nama seperti Mark Bosnich, Gareth Southgate, Paul McGrath, Andy Towsend, Savo Milosevic, serta Dwight Yorke.

Suatu fase lain yaitu ketika entrepreneur Amerika Serikat bernama Randy Lerner mengakuisi Villa pada Agustus 2006. Club juga merekrut Martin O’Neill sebagai manajer. Akhirnya lumayan. Hingga musim 2009/2010 The Villans masih tetap senantiasa jadi tim kuda hitam di Premier League, serta tidak pernah finis diluar 10 besar.

Kemudian performa Villa alami penurunan. Berturut-turut mereka menempati peringkat ke-9, 16, 15, serta musim lantas 17. Hingga saat itu, meskipun telah hampir, Villa masih tetap dapat bertahan di kasta paling tinggi Liga Inggris, seperti mereka telah bertahan disana sepanjang 28 musim — tidak pernah terdegradasi mulai sejak 1988.
Dengan keadaan genting sekarang ini, minggu lantas direksi club lakukan usaha lain. Jabatan Chairman dioper dari Lerner pada Steve Hollis.

” Satu diantara argumen mengapa tim ini tak jalan baik dalam lima musim paling akhir yaitu lantaran kami tak miliki kestabilan, ” tutur Hollis dalam wawancaranya dengan stasiun tv Sky Sports.

” Pekerjaan paling utama saya ke depan yaitu bangun stabilitas itu, bangun keyakinan diri di kelompok semuanya pimpinan di tiap-tiap bidang club ini. ”

Dengan cara cukup gamblang Hollis menyebutkan ada tata kelola yg tidak pas hingga Villa alami kemunduran. Lantaran dengan cara tehnis, club dia anggap telah berinvestasi cukup dalam transfer pemain. Dalam 10 th. paling akhir Lerner sudah keluarkan kian lebih 200 juta poundsterling untuk jual-beli pemain.

Pada musim panas lantas, umpamanya, Villa menggelontorkan seputar 50 juta pounds untuk beli beberapa pemain seperti Jordan Ayew, Rudy Gestede serta Adam Traore, menyusul kepergian Christian Benteke (Liverpool) serta Fabian Delph (Manchester City).

Menurut dia, menggunakan ” teliti besar ” tidaklah menolong untuk keluarkan club dari kesulitannya. Kestabilan yaitu kuncinya.

Baca Juga : Liverpool Bidik Penyerang Shakhtar Donetsk

” Lima manajer yang tidak sama dalam lima musim. Untuk beberapa pemain baru ataupun yang telah lebih dahulu diambil manajer terlebih dulu, bagaimanakah mereka dapat tahu apa gagasan permainan yang sebenarnya? ” sergah Hollis.

Hollis, Garde, serta beberapa pemain Villa masih tetap miliki 16 kompetisi yang dapat diperjuangkan untuk meraih stabilitas itu.